LINTASAN.TV — Program Studi Film dan Media Digital Politeknik SSR melangkah dengan semangat baru di bawah kepemimpinan Roy Wijaya selaku kepala program studi. Melalui pendekatan pendidikan yang kreatif, inklusif, dan kolaboratif, program studi ini berupaya menghadirkan lingkungan belajar yang menjadi rumah bagi para sineas muda untuk mengembangkan potensi, mengekspresikan gagasan, dan melahirkan karya yang bermakna.
Bagi Roy Wijaya, dunia film dan media digital bukan sekadar tentang kemampuan mengoperasikan kamera, mengolah gambar, atau menguasai teknologi produksi. Lebih dari itu, film merupakan medium untuk menyampaikan gagasan, merekam kehidupan, serta menghadirkan beragam perspektif yang layak didengar dan diapresiasi.
Ia meyakini setiap mahasiswa memiliki sudut pandang, pengalaman, dan kreativitas yang unik. Keberagaman tersebut bukan sesuatu yang harus diseragamkan, melainkan kekuatan yang perlu dikembangkan menjadi karya kreatif yang autentik.
Atas dasar itu, Roy ingin membangun suasana akademik yang hangat dan suportif. Mahasiswa diharapkan merasa diterima, didengarkan, serta memiliki ruang untuk bereksperimen dan mengembangkan identitas kreatifnya tanpa kehilangan karakter pribadi.
Menurutnya, peran pendidik bukanlah membentuk semua mahasiswa menjadi pribadi dengan cara pandang yang sama, melainkan membimbing mereka agar mampu menemukan suara dan gaya bercerita masing-masing.
“Dunia butuh lebih banyak cerita yang jujur. Dan cerita-cerita itu ada di sekitar kita—di senja yang berubah warna, di percakapan sederhana, di kisah-kisah yang sering terlewat,” ujar Roy Wijaya.
Pesan tersebut mencerminkan pendekatan pembelajaran yang mendorong mahasiswa untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Sebuah cerita tidak selalu harus berangkat dari peristiwa besar. Kehidupan sehari-hari, pengalaman personal, dan kisah masyarakat dapat menjadi sumber inspirasi untuk menghasilkan karya yang kuat dan menyentuh.
“Mahasiswa kami belajar untuk melihatnya, merekamnya, dan menyajikannya dengan penuh rasa hormat,” lanjutnya.
Mengasah Keterampilan, Menanamkan Etika
Di Program Studi Film dan Media Digital Politeknik SSR, pengembangan keterampilan teknis diharapkan berjalan seiring dengan pembentukan etika dan kepekaan sosial.
Mahasiswa tidak hanya dituntut memahami proses produksi film dan pemanfaatan teknologi digital, tetapi juga belajar mengenai tanggung jawab dalam menyampaikan cerita. Kejujuran, penghormatan terhadap subjek, serta kesadaran terhadap dampak sebuah karya menjadi nilai penting dalam proses kreatif.
Pendekatan ini relevan di tengah perkembangan industri film dan media digital yang semakin dinamis. Kemampuan teknis perlu diimbangi dengan kreativitas, pemikiran kritis, kemampuan bekerja sama, dan pemahaman terhadap masyarakat yang menjadi sumber berbagai cerita.
Dengan demikian, mahasiswa diharapkan tidak hanya mampu menghasilkan karya yang menarik secara visual, tetapi juga memiliki kedalaman pesan dan nilai yang dapat dirasakan oleh penontonnya.
Menyiapkan Generasi Kreatif Masa Depan
Di bawah kepemimpinan Roy Wijaya, Program Studi Film dan Media Digital Politeknik SSR membawa visi untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang inspiratif, kolaboratif, dan relevan dengan perkembangan industri kreatif.
Dukungan fasilitas pembelajaran dan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan bidang film serta media digital menjadi bagian penting dalam upaya mengembangkan kompetensi mahasiswa. Melalui proses pembelajaran dan praktik berkarya, mahasiswa diharapkan semakin siap menghadapi tantangan industri sekaligus mampu menciptakan peluang kreatif secara mandiri.
Bagi calon mahasiswa yang memiliki minat di bidang perfilman dan media digital, program studi ini menawarkan ruang untuk belajar, bereksperimen, berkolaborasi, dan menemukan karakter dalam berkarya.
Lebih dari sekadar tempat menimba ilmu, Program Studi Film dan Media Digital Politeknik SSR ingin menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda yang percaya bahwa setiap orang memiliki cerita dan setiap cerita memiliki kesempatan untuk memberikan makna.
Bersama Roy Wijaya dan tim pengajar, semangat tersebut menjadi pijakan untuk melahirkan sineas muda yang tidak hanya terampil dalam berkarya, tetapi juga berani menyampaikan gagasan, menghargai keberagaman, dan menghadirkan cerita yang berkesan bagi masyarakat.
Sebab, karya yang baik bukan hanya tentang apa yang dilihat oleh mata, tetapi juga tentang apa yang tinggal di hati setelah layar berhenti menyala.
(***)


